Minor Threat

Minor Threat

Kamis, 13 Juni 2013

Kisah 7 Kurcaci berlibur di Malioboro

Kisah 7 Kurcaci di Malioboro

Waktu itu, pada hari rabu tanggal 6 Maret 2013. Seperti biasa saya melakakukan kegiatan rutin yaitu bersekolah di SMA N 6 Madiun. Bel tanda ganti pelajaran berbunyi, ini adalah pelajaran Bahasa Indonesia. Seperti biasa P.Agus mengajar murid-murid XA pada saat itu bab yang dibahas adalah tentang Drama. Itu menjadi awal keakraban 8 anak laki-laki XA yaitu Saya, Ridho, Perwira, Azwin, Inggar, Hudaya, Richard,Vicky  karena menjadi 1 kelompok drama. Selama 2 jam pelajaran murid murid dibebaskan untuk kerja kelompok di luar kelas. Semua murid XA yang lain berdiskusi tentang drama mereka masing masing, tetapi lain hal dengan kelompok saya. Seperti biasa, kami berdelapan selalu bersama-sama berkumpul dalam hal penting maupun tidak penting. Kelompok saya tidak berlatih drama melainkan membuat rencana liburan,karena minggu depan SMA6 mengadakan try out. Kami semua bingung ingin mengisi liburan dengan apa. Rencana pertama liburan adalah ke Pacitan,tapi karena belum ada yang punya pengalaman ke Pacitan rencana tidak jadi, tapi jadinya ke Jogja. Ke Jogja itu pun masih debat antara naik kereta dan bis, kalau menurut Ridho mending naik kereta dari pada bis,karena naik kereta lebih cepat dan dekat dengan yang akan dituju. Setelah melalui diskusi,akirnya semua setuju dengan kereta api MadiunJaya yang berangkat jam 6 pagi. Akihrnya kami berangkat dengan 7 orang, karena yang 1 anak tidak berani. Yaitu Hudaya.

Kami bertujuh berangkat menggunakan kereta api saat pagi hari. Hari Rabu pagi sebelum jam 6 semua harus sudah berkumpul. Keberadaan awal di stasiun pun ternyata sudah diisi oleh Azwin dan Richard.
“Win,wes tuku tiket?”
“Ngenteni kabeh sek!”
“Selak entek wi ngko blok”
Tidak sampai 15 menit semua sudah datang, 7 lembar uang Rp50.000 di tangan saya,karena untuk antri tiket,tidak lama kemudian kereta MadiunJaya datang. Kami beramai-ramai masuk ke gerbong 4,karena asal duduk tidak sesuai nomer bangku. Hasilnya di stasiun Balapan Solo kami diusir dan duduk terpisah dikarenakan kami duduk tidak sesuai nomor yang ada di tiket. Di gerbong kereta api kami juga bertemu dengan artis yang baru baru ini sedang naik daun, yaitu Fatin X-Faktor  KW 5.

Kami sampai di Stasiun Tugu Jogja pada jam 10 siang waktu setempat.
cah sing jenege malioboro ki ndi to?”tanya Perwira dengan polosnya, padahal disitu sudah ada tulisan jalan Malioboro.
Karena sudah siang dan belum makan,kami mencari makan gudeg,makanan khas Jogja.
kae lo warung gudeg,murah” kataku dengan semangat,sambil menunjuk sebuah warung makan di samping stasiun
opo wi,gak enak!”dengan angkuhnya Azwin mengatakan.
wes golek losmen sek ae”kata Welly sambil menyebrang jalan memasuki gang kecil di depan stasiun Jogja.

Tiba-tiba kami didatangi oleh seorang bapak-bapak umurnya sekitar 50an,mungkin dia adalah Guide yang ditunjuk oleh pemilik losmen untuk menawarkan kamar.
Kami diarahkan menuju Lolita Guest House, nama sebuah losmen yang terletak di gang kecil lebarnya sekitar 70cm. Setelah menawar harga, akirnya di setujui Rp180.000 untuk 2 kamar. Setelah menyewa losmen dan sekedar leyeh-leyeh, kami tancap gas mencari warung nasi untuk sarapan. Kami pun menemukan sebuah warung di Malioboro namun harganya cukup mahal untuk sebuah nasi gudeg yaitu 10 ribu rupiah.Mau tidak mau kami tetap harus mengisi perut kami.

Setelah kenyang, kami melanjutkan penelusuran di Malioboro dengan jalan-jalan santai. Karena saking semangatnya, Ridho berjalan sangat cepat sampai membuat perut kami sudukan.
“Gasut banter eram tho we ki dho? Koyok sumber kencono! Protesku.
Diujung jalan ternyata kami menemukan sebuah benteng Vrendenburg, yang menjadi peninggalan belanda pada masa silam. Setelah dari sana, Saya, Ridho, Perwira, Inggar, dan Richard melanjutkan perjalanan ke Taman Pintar yang letaknya tidak jauh dari monumen 1 Maret dan benteng Vrendenburg walaupun kami disana hanya berfoto-foto dengan narsis, sedangkan Vicky menunggu di depan benteng Vrendenburg dan Azwin menghilang entah kemana dengan seorang Hancock. Setelah kami puas jalan-jalan, kami bertujuh memutuskan untuk kembali tidur siang di losmen. Kami tertidur pulas sampai sore hari.

Namun tak terduga apa yang saya alami dengan teman-teman saya. Kami terkejut sewaktu kami bangun kami sangat haus dan tidak ada segelas pun air matang yang bisa diminum. Lalu saya dan Ridho mendapat misi dari kawan-kawan untuk memburu beberapa botol aqua di Indomaret terdekat. Akhirnya kami menemukannya juga dan lekas membawanya pulang ke markas.
woy,ndang ados cah,wes meh magrib, ben engko iso dolan!”kata Ridho dengan penuh semangat.

Sekarang tinggal Azwin yang belum mandi,karena dia yang paling malas dan tukang tidur. Ternyata ada yang terlupakan, karena semua sibuk sampai-sampai Richard tidak ada yang membangunkan. Baru setelah magrib semua sadar jika Richard belum bangun,pada saat itu juga langsung dibangunkan dan langsung saya suruh mandi. Maklum, mereka biasa terlatih tidur di segala medan sampai tidak bisa bangun tepat waktu.

Malam hari menjelang, setelah kami semua mandi dan merilis harlem shake di losmen yang tadi, kami berangkat jalan kaki menuju Malioboro lagi. Disana kami puas berlibur, berbelanja, berjalan-jalan, bersantai, dsb. Tapi sebelum kami melakukan itu semua, kami lagi-lagi harus mencari sebuah warung makan untuk makan malam. Dan lagi-lagi nasi gudeg 10 ribu. Karena pada saat itu Vicky merasa masuk angin, dia ingin membeli soto. Memang sulit mencari makanan soto di Jogja, terlebih kita memang bukan orang Jogja, dan di Jogja bukan tempatnya soto tapi gudeg.

Di depan stasiun ada warung soto yang harganya Rp.7000 tapi Azwin sekali lagi menolak. Sombong kan Azwin gara-gara gengsi ya ? Ada soto di Malioboro tapi harganya Rp.16.000,wah akirnya semua tidak jadi beli soto,tapi malah beli gudeg lagi. Harganya sebanding dengan rasanya,tapi tidak sebanding dengan jumlahnya,maklum lah di Malioboro,memang mahal. Lalu karena beberapa teman kami (Ilyas, Vicky, Inggar) ingin menghemat uang untuk berbelanja dia memesan sebuah nasi yang harganya cuman 3 ribu rupiah saja. Saya dan teman-teman yang lainnya terkejut. Tapi ternyata apa yang dipesan oleh mereka ? ternyata hanya nasi uduk nyel tanpa lauk, jika dengan lauk maka harganya naik menjadi 15 ribuan. Kami menahan tawa hingga tak sanggup melahap nasi gudeg yang kami pesan.

Setelah selesai makan kami jalan-jalan lagi di area Malioboro. Karena saya, Perwira, Vicky, dan Ridho ingin membeli oleh oleh, kami semua pun berpisah dengan prajurit yang lainnya. Setelah oleh oleh sudah didapatkan kami menyusul Aswin, Richard,dan Inggar ke ujung Malioboro, tepatnya di depan Bank BNI dan monumen 1 Maret. Tiba-tiba di seberang jalan ada 2 pengamen.
wah pengamen Jogja ayu-ayu yo!” (“iyo !”) kata Inggar sambil menunjuk 2 pengamen tadi
Tapi sebaliknya semua malah takut dengan pengamen itu, terutama saya dan Richard. Dan sebenarnya pengamen itu adalah banci Jogja. Karena diantara 7 orang hanya inggar yang pakai kacamata. Jadi bencong pun dilihatnya cantik. Kami pun melanjutkan perjalanan.

Ditengah jalan kami melihat ada penjual bakpia yg masih buka. Dan kebetulan sekali ketika saya masih bingung ingin membelikan buah tangan apa untuk keluarga di rumah dan pacar saya. Sayapun ingin membelinya. Karena penjual itu mau tutup, saya berniat untuk menawar habis-habisan harga barangnya.
“mandak meh tutup ae lho”gumamku. Dan akhirnya kami diberi harga murah. Lagi-lagi kami membelinya untuk oleh -leh lagi.

Waktu sudah menunjukan pukul setengah sebelas malam tak terasa waktu cepat berlalu dan memaksa kami untuk kembali ke markas losmen untuk tidur. Tetapi kami bertujuh memutuskan untuk bercerita dan menyanyikan lagu-lagu dulu sebelum tidur. Dan entah kenapa tiba-tiba waktu kami bernyanyi dan bermain gitar, teman saya Inggar keluar kamar sambil bersalto bernyanyi sambil berteriak “Di Malioboro!” berulang-ulang kali sampai esok hari. Kami tertawa terpingkal-pingkal sampai tengah malam hanya menertawakan kelakuan Inggar.
Hari Kamis pagi jam 05.00 WIB. suara adzan subuh membangunkan tidurku, segera saya membangunkan teman-teman,tapi percuma tidak ada yang bangun. Lagi-lagi Richard dan Azwin tidur paling lama.

Sekitar jam 8 pagi saya mengajak Ridho untuk membeli tiket kereta sambil menunggu semua bersiap-siap. Ternyata harga tiket berbeda dengan kemarin,yang semula Rp.50.000 menjadi Rp.30.000 karena yang digunakan adalah kereta non AC. Setelah semua siap untuk berangkat, Perwira sebagai ketua rombongan dan juru bicara kami menyerahkan kunci kamar dan berpamitan. Karena penasaran dengan warung gudeg disamping stasiun kemarin, kami mencobanya. Ternyata disana juga menyediakan soto yang semalam dicari Vicky. Tapi karena di Jogja saya tetap memilih makan gudeg,semua menyesal karena tidak mendengarkan kata-kata saya kemarin. Di situ gudeg labih murah dan lebih banyak porsinya.

Beda pada makan-makan sebelumnya, kali ini saya lagi nyidam minum luwak White Koffie. Di warung itu pun saya memesan luwak White Koffie, padahal teman-teman saya semua memesan jeruk dan teh hangat. Alhasil pesanan saya tidak dikabulkan oleh penjualnya. (Salahe pesen reno-reno)

Kereta berangkat 45 menit lagi, tapi malah semua kembali ke ujung jalan Malioboro karena belum puas untuk foto. Yang paling berseangat untuk foto adalah Inggar, karena dari berangkat dia memang yang sering memfoto.
sorry bos jam wes mepet!”.kata Ridho sebagai pengatur strategi petualangan yang mengingatkan saya dan teman-teman.

Kurang 10 menit kereta berangkat, kami malah baru memulai perjalanan ke stasiun. Setelah sampai di stasiun yang ada bukan kereta non AC tapi malah kereta yang sama seperti kemarin, saya bingung karena takutnya jika salah kereta kami akan diturunkan ke stasiun terdekat dan tidak bisa pulang, tapi ternyata benar itu memang kereta yang sama dengan di tiket.

Kereta pun akhirnya berjalan dan meninggalkan kota Yogyakarta, kota yangg terkenal dengan tempat wisata dan gudegnya. Dikereta api kamipun bertemu lagi dengan artis X-Faktor yaitu Fatin KW6. Dan di kereta tepatnya digerbong yang kami naiki, di gerbong itu awalnya ada banyak orang tetapi setelah sampai Solo ada rombongan yg turun di Solo dan akhirnya tinggal beberapa orang saja yangg ada di gerbong itu. Kami pun serasa membeli dan menguasai gerbong itu. Karena gerbong itu sedikit penumpangnya sampai sampai membuat kami berdiri, tiduran, lesehan di gerbong tersebut. Padahal gerbong itu sepi. Akhirnya kami pun sampai di Madiun dengan selamat sentosa mengantarkan kami semua ke depan pintu gerbang parkiran stasiun kota Madiun dengan sehat walafiat dan di ridhoi Allah SWT.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar