Kisah
7 Kurcaci di Malioboro
Waktu itu, pada
hari rabu tanggal 6 Maret 2013. Seperti biasa saya melakakukan kegiatan rutin
yaitu bersekolah di SMA N 6 Madiun. Bel tanda ganti pelajaran berbunyi, ini
adalah pelajaran Bahasa Indonesia. Seperti biasa P.Agus mengajar murid-murid XA
pada saat itu bab yang dibahas adalah tentang Drama. Itu menjadi awal keakraban
8 anak laki-laki XA yaitu Saya, Ridho, Perwira, Azwin, Inggar, Hudaya, Richard,Vicky karena menjadi 1 kelompok drama. Selama 2 jam
pelajaran murid murid dibebaskan untuk kerja kelompok di luar kelas. Semua
murid XA yang lain berdiskusi tentang drama mereka masing masing, tetapi lain
hal dengan kelompok saya. Seperti biasa, kami berdelapan selalu bersama-sama
berkumpul dalam hal penting maupun tidak penting. Kelompok saya tidak berlatih
drama melainkan membuat rencana liburan,karena minggu depan SMA6 mengadakan try out. Kami semua bingung ingin
mengisi liburan dengan apa. Rencana pertama liburan adalah ke Pacitan,tapi
karena belum ada yang punya pengalaman ke Pacitan rencana tidak jadi, tapi
jadinya ke Jogja. Ke Jogja itu pun masih debat antara naik kereta dan bis,
kalau menurut Ridho mending naik kereta dari pada bis,karena naik kereta lebih
cepat dan dekat dengan yang akan dituju. Setelah melalui diskusi,akirnya semua
setuju dengan kereta api MadiunJaya yang berangkat jam 6 pagi. Akihrnya kami
berangkat dengan 7 orang, karena yang 1 anak tidak berani. Yaitu Hudaya.
Kami bertujuh
berangkat menggunakan kereta api saat pagi hari. Hari Rabu pagi sebelum jam 6
semua harus sudah berkumpul. Keberadaan awal di stasiun pun ternyata sudah diisi oleh Azwin dan Richard.
“Win,wes
tuku tiket?”
“Ngenteni
kabeh sek!”
“Selak
entek wi ngko blok”
Tidak sampai 15
menit semua sudah datang, 7 lembar uang Rp50.000 di tangan saya,karena untuk
antri tiket,tidak lama kemudian kereta MadiunJaya datang. Kami beramai-ramai
masuk ke gerbong 4,karena asal duduk tidak sesuai nomer bangku. Hasilnya di
stasiun Balapan Solo kami diusir dan duduk terpisah dikarenakan kami duduk
tidak sesuai nomor yang ada di tiket. Di gerbong kereta api kami juga bertemu
dengan artis yang baru baru ini sedang naik daun, yaitu Fatin X-Faktor KW 5.
Kami sampai di Stasiun
Tugu Jogja pada jam 10 siang waktu setempat.
“cah
sing jenege malioboro ki ndi to?”tanya Perwira dengan polosnya, padahal
disitu sudah ada tulisan jalan Malioboro.
Karena sudah siang dan belum makan,kami
mencari makan gudeg,makanan khas Jogja.
“kae
lo warung gudeg,murah” kataku dengan semangat,sambil menunjuk sebuah warung
makan di samping stasiun
“opo
wi,gak enak!”dengan angkuhnya Azwin mengatakan.
“wes
golek losmen sek ae”kata Welly sambil menyebrang jalan memasuki gang kecil
di depan stasiun Jogja.
Tiba-tiba kami
didatangi oleh seorang bapak-bapak umurnya sekitar 50an,mungkin dia adalah Guide yang ditunjuk oleh pemilik losmen
untuk menawarkan kamar.
Kami diarahkan menuju Lolita Guest House, nama sebuah losmen
yang terletak di gang kecil lebarnya sekitar 70cm. Setelah menawar
harga, akirnya di setujui Rp180.000 untuk 2 kamar. Setelah menyewa losmen dan
sekedar leyeh-leyeh, kami tancap gas mencari warung nasi untuk sarapan. Kami
pun menemukan sebuah warung di Malioboro namun harganya cukup mahal untuk
sebuah nasi gudeg yaitu 10 ribu rupiah.Mau tidak mau kami tetap harus mengisi
perut kami.
Setelah kenyang,
kami melanjutkan penelusuran di Malioboro dengan jalan-jalan santai. Karena
saking semangatnya, Ridho berjalan sangat cepat sampai membuat perut kami
sudukan.
“Gasut banter eram tho we ki dho?
Koyok sumber kencono!
Protesku.
Diujung jalan
ternyata kami menemukan sebuah benteng Vrendenburg, yang menjadi peninggalan
belanda pada masa silam. Setelah dari sana, Saya, Ridho, Perwira, Inggar, dan
Richard melanjutkan perjalanan ke Taman Pintar yang letaknya tidak jauh dari
monumen 1 Maret dan benteng Vrendenburg walaupun kami disana hanya berfoto-foto
dengan narsis, sedangkan Vicky menunggu di depan benteng Vrendenburg dan Azwin
menghilang entah kemana dengan seorang Hancock. Setelah kami puas jalan-jalan,
kami bertujuh memutuskan untuk kembali tidur siang di losmen. Kami tertidur
pulas sampai sore hari.
Namun tak
terduga apa yang saya alami dengan teman-teman saya. Kami terkejut sewaktu kami
bangun kami sangat haus dan tidak ada segelas pun air matang yang bisa diminum.
Lalu saya dan Ridho mendapat misi dari kawan-kawan untuk memburu beberapa botol
aqua di Indomaret terdekat. Akhirnya kami menemukannya juga dan lekas
membawanya pulang ke markas.
“woy,ndang
ados cah,wes meh magrib, ben engko iso dolan!”kata Ridho dengan penuh
semangat.
Sekarang tinggal
Azwin yang belum mandi,karena dia yang paling malas dan tukang tidur. Ternyata
ada yang terlupakan, karena semua sibuk sampai-sampai Richard tidak ada yang
membangunkan. Baru setelah magrib semua sadar jika Richard belum bangun,pada
saat itu juga langsung dibangunkan dan langsung saya suruh mandi. Maklum,
mereka biasa terlatih tidur di segala medan sampai tidak bisa bangun tepat
waktu.
Malam hari
menjelang, setelah kami semua mandi dan merilis harlem shake di losmen yang
tadi, kami berangkat jalan kaki menuju Malioboro lagi. Disana kami puas
berlibur, berbelanja, berjalan-jalan, bersantai, dsb. Tapi sebelum kami
melakukan itu semua, kami lagi-lagi harus mencari sebuah warung makan untuk
makan malam. Dan lagi-lagi nasi gudeg 10 ribu. Karena pada saat itu Vicky
merasa masuk angin, dia ingin membeli soto. Memang sulit mencari makanan soto
di Jogja, terlebih kita memang bukan orang Jogja, dan di Jogja bukan tempatnya
soto tapi gudeg.
Di depan stasiun
ada warung soto yang harganya Rp.7000 tapi Azwin sekali lagi menolak. Sombong
kan Azwin gara-gara gengsi ya ? Ada soto di Malioboro tapi harganya
Rp.16.000,wah akirnya semua tidak jadi beli soto,tapi malah beli gudeg lagi.
Harganya sebanding dengan rasanya,tapi tidak sebanding dengan jumlahnya,maklum
lah di Malioboro,memang mahal. Lalu karena beberapa teman kami (Ilyas, Vicky,
Inggar) ingin menghemat uang untuk berbelanja dia memesan sebuah nasi yang
harganya cuman 3 ribu rupiah saja. Saya dan teman-teman yang lainnya terkejut.
Tapi ternyata apa yang dipesan oleh mereka ? ternyata hanya nasi uduk nyel
tanpa lauk, jika dengan lauk maka harganya naik menjadi 15 ribuan. Kami menahan
tawa hingga tak sanggup melahap nasi gudeg yang kami pesan.
Setelah selesai
makan kami jalan-jalan lagi di area Malioboro. Karena saya, Perwira, Vicky, dan
Ridho ingin membeli oleh oleh, kami semua pun berpisah dengan prajurit yang
lainnya. Setelah oleh oleh sudah didapatkan kami menyusul Aswin, Richard,dan
Inggar ke ujung Malioboro, tepatnya di depan Bank BNI dan monumen 1 Maret.
Tiba-tiba di seberang jalan ada 2 pengamen.
“wah
pengamen Jogja ayu-ayu yo!” (“iyo !”) kata Inggar sambil menunjuk 2
pengamen tadi
Tapi sebaliknya semua malah takut dengan
pengamen itu, terutama saya dan Richard. Dan sebenarnya pengamen itu adalah banci
Jogja. Karena diantara 7 orang hanya inggar yang pakai kacamata. Jadi bencong
pun dilihatnya cantik. Kami pun melanjutkan perjalanan.
Ditengah jalan
kami melihat ada penjual bakpia yg masih buka. Dan kebetulan sekali ketika saya
masih bingung ingin membelikan buah tangan apa untuk keluarga di rumah dan
pacar saya. Sayapun ingin membelinya. Karena penjual itu mau tutup, saya
berniat untuk menawar habis-habisan harga barangnya.
“mandak meh tutup ae lho”gumamku. Dan
akhirnya kami diberi harga murah. Lagi-lagi kami membelinya untuk oleh -leh
lagi.
Waktu sudah
menunjukan pukul setengah sebelas malam tak terasa waktu cepat berlalu dan
memaksa kami untuk kembali ke markas losmen untuk tidur. Tetapi kami bertujuh
memutuskan untuk bercerita dan menyanyikan lagu-lagu dulu sebelum tidur. Dan
entah kenapa tiba-tiba waktu kami bernyanyi dan bermain gitar, teman saya
Inggar keluar kamar sambil bersalto bernyanyi sambil berteriak “Di Malioboro!”
berulang-ulang kali sampai esok hari. Kami tertawa terpingkal-pingkal sampai
tengah malam hanya menertawakan kelakuan Inggar.
Hari Kamis pagi
jam 05.00 WIB. suara adzan subuh membangunkan tidurku, segera saya membangunkan
teman-teman,tapi percuma tidak ada yang bangun. Lagi-lagi Richard dan Azwin
tidur paling lama.
Sekitar jam 8
pagi saya mengajak Ridho untuk membeli tiket kereta sambil menunggu semua
bersiap-siap. Ternyata harga tiket berbeda dengan kemarin,yang semula Rp.50.000
menjadi Rp.30.000 karena yang digunakan adalah kereta non AC. Setelah semua
siap untuk berangkat, Perwira sebagai ketua rombongan dan juru bicara kami
menyerahkan kunci kamar dan berpamitan. Karena penasaran dengan warung gudeg
disamping stasiun kemarin, kami mencobanya. Ternyata disana juga menyediakan
soto yang semalam dicari Vicky. Tapi karena di Jogja saya tetap memilih makan
gudeg,semua menyesal karena tidak mendengarkan kata-kata saya kemarin. Di situ
gudeg labih murah dan lebih banyak porsinya.
Beda pada
makan-makan sebelumnya, kali ini saya lagi nyidam minum luwak White Koffie. Di
warung itu pun saya memesan luwak White Koffie, padahal teman-teman saya semua
memesan jeruk dan teh hangat. Alhasil pesanan saya tidak dikabulkan oleh
penjualnya. (Salahe pesen reno-reno)
Kereta berangkat
45 menit lagi, tapi malah semua kembali ke ujung jalan Malioboro karena belum
puas untuk foto. Yang paling berseangat untuk foto adalah Inggar, karena dari
berangkat dia memang yang sering memfoto.
“sorry
bos jam wes mepet!”.kata Ridho sebagai pengatur strategi petualangan yang
mengingatkan saya dan teman-teman.
Kurang 10 menit
kereta berangkat, kami malah baru memulai perjalanan ke stasiun. Setelah sampai
di stasiun yang ada bukan kereta non AC tapi malah kereta yang sama seperti
kemarin, saya bingung karena takutnya jika salah kereta kami akan diturunkan ke
stasiun terdekat dan tidak bisa pulang, tapi ternyata benar itu memang kereta
yang sama dengan di tiket.
Kereta
pun akhirnya berjalan dan meninggalkan kota Yogyakarta, kota yangg terkenal
dengan tempat wisata dan gudegnya. Dikereta api kamipun bertemu lagi dengan
artis X-Faktor yaitu Fatin KW6. Dan di kereta tepatnya digerbong yang kami
naiki, di gerbong itu awalnya ada banyak orang tetapi setelah sampai Solo ada
rombongan yg turun di Solo dan akhirnya tinggal beberapa orang saja yangg ada
di gerbong itu. Kami pun serasa membeli dan menguasai gerbong itu. Karena
gerbong itu sedikit penumpangnya sampai sampai membuat kami berdiri, tiduran,
lesehan di gerbong tersebut. Padahal gerbong itu sepi. Akhirnya kami pun sampai
di Madiun dengan selamat sentosa mengantarkan kami semua ke depan pintu gerbang
parkiran stasiun kota Madiun dengan sehat walafiat dan di ridhoi Allah SWT.